“Three points for everywhere!”
Monolog ala Jurgen Klopp
Musim ini Liverpool kembali menunjukkan jati dirinya kepada khalayak publik bahwasanya mereka bukanlah tim sembarangan. Permainan dan performa yang sangat ciamik terus dilanjutkan oleh klub yang berjuluk “The Reds” tersebut. Bagaimana tidak, hingga pekan ke-26 bergulir, dari tim papan bawah hingga papan atas pun ikut merasakan kedermawanan dari juara bertahan Liga Inggris musim lalu yang secara sukarela sedekah poin.
Belum lagi, pada pertandingan berikutnya Liverpool (kemungkinan) besar akan kembali dibantai kalah oleh Aston Villa. Mengingat selama 6 pertandingan terakhir, lini depan Liverpool seakan menjadi orang dewasa yang setelah sekian lama menikmati kembali betapa enaknya tidur siang dan lupa akan kewajiban utamanya. Alih-alih mencetak gol, lini depan Liverpool jadi memble, Mohammed Salah pun ikutan tidur, Thiago yang katanya di awal musim akan menjadi pembeda malah membawa malapetaka (tidak ada bedanya ini pemain dengan si Havertz dari tim biru).
Tak lupa juga dengan Diogo Jota dan Naby Keita yang sekadar meramaikan jalannya pertandingan, Fabinho yang kerap kali lupa kalo dia itu sebenernya seorang gelandang, bukan anchor-back. Atau, seorang Trent Alexandre Arnold yang ntah kerasukan apa dia bisa menjelma menjadi Moreno (sering maju, lupa mundur). Hanya satu kata yang tepat untuk Liverpoot saat ini ialah: Membosankan.
Yap, sangat membosankan untuk ditonton dan terlintas permainan mereka semua ini mirip dengan permainan Manchester United di era Mourinho. Bedanya, Manchester United saat itu seperti menganut kick and defence, setelah menendang bola akan mundur ke belakang secara teratur. Sedangkan untuk kasus Liverpool musim ini menganut kick and mubeng, setelah menendang bola maka semua pemain akan mubeng-mubeng: bola ada dimana, mereka lari entah kemana.
Secara pribadi, hal ini bukanlah fenomena langka bagi Liverpudlian. Bisa dibilang, ini jati diri Liverpool yang sesungguhnya, tidaklah heran jikalau mereka bisa mengalami rentetan kekalahan sebanyak 6 kali terutama di kandang sendiri. Slogan “mentality monster” yang semula digaungkan oleh Klopp, lambat laun berubah menjadi “mentality midget”.
Kini, Liverpool benar-benar kembali ke setelan semula dengan template skenario yang selalu diusung:
- Menjadi tim yang diunggulkan dari Merseyside yang setiap tahun berusaha menjadi kandidat juara
- Merangsek ke papan atas di awal musim berlangsung
- Badai cedera menerjang ketika boxing day kemudian dilanjutkan dengan terjun bebas di akhir musim
Dan tentu saja, semua skenario ini akan ditutup dengan slogan terkenal yang didengungkan oleh fans setia mereka “Next Year is Ours”. Tampaknya, Liverpool juga sudah menyiapkan skenario yang sama untuk musim ini, hanya saja yang membedakan adalah di musim ini Liverpool terlihat berlomba untuk finish di papan tengah dengan sekolah sepak bola bernama Arsenal.
Lantas bagaimana dengan nasib para pendukung mereka? Entahlah, kalian dapat bertanya secara langsung kepada teman sejawat, apakah mereka akan tetap setia dengan klub kebanggaan-nya atau malah akan berpaling ke klub yang lain (Arsenal, misalnya). Bagi saya pribadi, bukanlah sesuatu yang mengejutkan karena hal ini merupakan suatu siklus yang selalu dialami oleh Liverpool sepanjang lebih dari 15 tahun saya mendukung klub ini.
-
Kalah 7-2 oleh Aston Villa? ahh, bukan pemandangan baru. Stoke City saja pernah membantai Liverpool 6-1.
-
Kalah 9 kali di Liga? bukan hal yang baru juga. Kembali lagi ke musim 15/16, Liverpool malah bersaing dengan Chelsea siapa yang paling banyak kalah
-
Tergelincir di akhir musim? sudah menjadi tradisi Liverpool untuk kepeleset di akhir, dimulai dari musim 2008/2009 era Benitez, kemudian dilanjutkan dengan Rodgers pada musim 13/14 dan yang terbaru ketika dilatih Klopp saat mengarungi musim 18/19.
Tampaknya, riwayat Liverpool sudah dapat disandingkan dengan cerita Kimun Kamui, yang berbeda ialah untuk kisah ini, para pemain Liverpool yang tampak menjadi sekelompok orang tersesat, yang di akhir cerita nanti mereka semua akan terombang-ambing oleh kebingungan dan keputusasaan mereka sendiri.
Lantas, apakah sudah saatnya revolusi?