Sangkalan utama

  • Bukanlah seorang yang ahli, kompeten dan mempunyai pengetahuan yang komprehensif mengenai tema ini
  • Tema yang disajikan merupakan hasil dari pembacaan sistematis literatur yang sangat jauh dikatakan sistematis, pembacaan/pemahaman dari referensi yang bisa dibilang melompat-lompat
  • Memerlukan teman diskusi untuk membicarakan tema ini (atau teman imajinasi?)
  • Tulisan ini adalah refleksi personal, bukan sebuah suruhan dan juga bukan juga pembelaan
  • Tulisan pertama dalam Bahasa Indonesia semenjak memulai menulis di blog sekitar tahun 2018 silam :‘)

Beberapa hari yang lalu, aku membaca sebuah tweet yang menyebutkan bahwa ajaran Islam terkesan lebih sering memerintah dan guilt-trip. Pertama kali membacanya, aku merasa sebetulnya ini sesuatu yang besar sekaligus menarik di sana. Bukan karena aku langsung setuju atau tidak setuju, melainkan muncul sebuah pertanyaan yang lebih dalam: sebenarnya, di mana posisi kita bisa berdiri ketika menafsirkan sesuatu?

Dan mungkin, tulisan ini cukup out-of-context dari tweet kakaknya. Hal yang pertama kali patut kita garisbawahi dan juga memahami bersama ialah, penafsiran Al-Qur’an itu sangat kompleks dan multi-layered. Dulu, aku juga sering bertanya mengapa acapkali diajarkan tentang sesuatu yang sifatnya intrusif dan mengintimidasi, daripada mengajak dengan lembut

Lambat laun sebenarnya terjawab sendirinya, lingkungan sekitar dan cara kita mencari informasi atau sumber untuk belajar juga berpengaruh terhadap bagaimana kita mempersepsikan dan mengkontekstualisasikan ajaran Islam salah satunya melalui Al-Qur’an. Yang perlu disadari juga: setiap interpretasi selalu perspectival1 dan banyak spektrum. Tidak ada sudut pandang yang benar-benar netral, pun termasuk sudut pandang yang aku gunakan di tulisan ini. Pertanyaannya bukan apakah kita memilih sudut pandang tertentu, melainkan apakah kita jujur dan sadar tentang sudut pandang mana yang sedang kita pakai dan mengapa. Pada akhirnya, aku juga menyadari bahwasanya kita memang tidak bisa cherry-picking. Hanya mengambil apa yang kita sukai dan menanggalkan yang tidak. Tapi ini juga berlaku dalam hal interpretasi: kita perlu jujur bahwa saat kita akan memaknai sebuah fenomena adalah sebuah pilihan

Dari situ, aku mencoba belajar dari sudut pandang yang lebih luas. Not just “religious thinking” atau “academic thinking”, tapi juga meliputi:

  • fenomena alam
  • fenomena sosial
  • etika sosial

Tujuan utamanya adalah mereduksi pemikiran “terlalu rasional” atau tindakan “terlalu spiritual”, dan menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan agama semestinya tidak terfragmentasi

Sebagai rujukan, aku mencoba mengambil 2 ayat dari Ali-Imran tentang ulul albab, dan dari sana muncul semacam holistic cognitive framework dengan multi-domain thinking. Bisa dielaborasikan lebih jauh ke ayat-ayat lain yang menyentuh ranah:

  • aktualisasi diri → kita diciptakan salah satunya untuk berpikir → Ali-Imran
  • sensitivitas → membaca peristiwa di sekitar kita → Yusuf 105–106
  • relevansi → bagaimana stay relevan dengan fenomena yang ada → Ali-Imran
  • imaginasi → merencanakan dan bermuhasabah untuk masa depan → Al-Hashr 18
  • independensi → kemandirian dalam menyampaikan pendapat → Ash-Shafat 102
  • akuntabilitas → hati-hati dalam bertindak, di dunia nyata maupun di media sosial → Al-Hujurat 6

images

Dan sekarang, aku akan mencoba kembali ke pengalaman kakaknya yang merasa Islam kok sering memerintah dan guilt-trip.

Perlu diakui terlebih dahulu, aku merasa, perasaan itu valid dan benar somewhat to such an extent. Sebelum kita masuk ke re-interpretasi teologis apapun, ada pertanyaan mendasar yang perlu ditanyakan dulu untuk kita semua: sebenarnya, apakah perasaan ini bermuara dari pengalaman yang menyakitkan? apakah merupakan trauma atas agama Islam? atau sebuah metode yang memunculkan perasaan guilt yang digunakan sebagai alat kontrol? atau lingkungan yang mengajarkan Islam dengan cara yang intrusif dan menyampaikannya belum sesuai? Aku rasa, ini bukan soal teologi semata, ini soal pengalaman kita sebagai manusia dan bagaimana caranya kita merespons dengan kepekaan, bukan hanya dengan argumen. Re-interpretasi yang baik sekalipun, jika datang terlalu cepat, bisa terasa seperti intelektualisasi atas sebuah luka

Barulah, setelah itu, kita bisa melihat dari sisi epistemologi: bahwasanya Tuhan tidak menciptakan kesia-siaan. Ada alasan mengapa kakaknya merasakan dan memaknai ajaran Islam seperti itu, dan itu layak untuk dieksplorasi dengan serius, bukan dibungkam.

Jika dielaborasikan lebih lanjut, muncul beberapa implikasi yang patut dipertimbangkan:

  • science becomes meaningful inquiry → pertanyaannya: apakah sudah dilakukan?
  • social analysis becomes moral responsibility → di tengah pro-kontra yang masif, beban tanggung jawab akan dilimpahkan ke siapa?
  • suffering becomes something to interpret carefully → ini mungkin titik yang paling relevan untuk kakaknya: apakah perasaan itu bermuara dari pengalaman traumatis, atay dari cara Islam diajarkan di lingkungannya, atau dari hal lain? Dan jika memang tidak menemukan jawaban yang memuaskan. That’s totally fine. Ketidakpastian bukan kegagalan maupun keburukan
  • seeking meaning and accepting uncertainty → jika memang tidak menemukan titik temu, apa langkah selanjutnya? Ini pertanyaan terbuka yang masing-masing orang perlu menjawabnya sendiri

Jadinya tidak hanya teologis atau teoritis, secara praktis normatif bisa diterapkan di dunia nyata, jika berkenan dan mampu. Cukup sulit memang, karena persepsi etis antar individu berbeda-beda. Sudut pandang ini pun tidak otomatis menjawab when to conform atau when to differ. Sejujurnya, aku pun juga tidak tahu mengenai hal ini

Yang sekiranya bisa aku sampaikan hanya ini: ketika aku sendiri menghadapi ketidakpastian seperti itu, aku mencoba kembali ke pertanyaan yang paling jujur dan mendasar seperti apa yang aku yakini, mengapa aku meyakininya, dan apakah cara aku meyakininya menyakiti orang lain atau tidak? Setidaknya, di titik ini aku berangkat

Apapun itu, perasaan yang dialami kakaknya hingga muncul tweet seperti itu, kita sesama umat muslim semestinya tidak perlu merespons dengan sangat reaktif2, apalagi sampai mengkerdilkan atau overly judging. Justru yang lebih dibutuhkan adalah merangkul: mengingatkan pelan-pelan, mengajak, ataupun mendoakan

Wallahu A’lam Bishawab

Footnotes

  1. Perspectivical dalam ranah epistemologi menyiratkan, secara normatif, adalah bagaimana cara kita untuk tidak terlalu menuntut atas sebuah realitas hanya sekadar mengejar “bukti yang absolut”. Alih-alih mencoba untuk membuktikan sebuah kebenaran yang valid, terutama di luar sudut pandang kita, yang bisa kita lakukan adalah terus mengkaji dan mengevaluasi pengetahuan ilmiah kita sepanjang waktu. Dilihat dari perspektif ini, mungkin merupakan cara terbaik untuk memperbaiki keadaan dari sudut pandang kita sebagai manusia (berdasarkan para pendahulu, peristiwa masa lampau, masa sekarang dan yang akan datang), karena kita tidak memiliki sudut pandang dari Tuhan. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6472568/

  2. Sikap reaktif ini pernah di-highlight oleh Ziauddin Sardar di salah satu jurnal/bukunya. Bahwa salah satu tanda declination of muslim civilizations adalah ketika umat muslim hanya bisa bersikap reaktif atas fenomena yang berlawanan, tanpa menyadari potensi yang ada pada diri mereka sendiri. Artinya, cara kita merespons kakaknya bukan hanya cerminan karakter individual, melainkan juga cerminan dari sejauh mana kita, sebagai komunitas, sudah benar-benar bertumbuh dan menerima